Om Iwan
Sore berdarah di negeri sana. Peluru berkaliber 1 inc masih beradu ketumpasan menyatakan tujuan dari kemanusiaan.
Sedangkan disini aku sedang duduk bersama om Iwan. Di ruang tamu yang rapih dan bagus beserta hujan yang masih turun dan masih pagi.
Pembicaraan kami bukan seputar negeri berdarah itu. Karna kami masih membicarakan konsep di negeri ini yang belum selesai. Walaupun tidaklah besar. Konsep seni Pertunjukan musik.
"Om, bagaimana masalah konsep pertunjukan musik?" Tanyaku
"Ohh, tentu diusahakan terealisasikan." Sambil melihat smarthphonenya.
"Nih, ada beberapa orang yang ikut mensupport dan ingin mensegerakan." Ujarnya.
"Apakah dari persiapannya sudah matang?"
"Dari konsep sih sudah. Sudah lama telah di siapkan."
"Ada Tapi?"
"Tapi memang belum matang sih walaupun hanya beberapa."
"Apa yang beberapanya itu?"
"Menurut om pribadi sih, adapun beberapa persiapan yang harus di lakukan. Pertama konsep, kedua support dan yang ketiga baru penempatan tempat dan waktu."
"Keempat?"
"Ahh, kamu nih banyak tanya. Jelas jalannya pertunjukkanlah." Tertawa sambil memperlihatkan giginya yang kuning karna banyaknya nikotin terkonsumsi dengam kumisnya yang tebal dan rambutnya yang panjang bergelombang. Memang dia seorang peranakan seniman teatrikal. Ekspresif.
"Nih om mau rokok?" Aku tawarkan rokok putih milikku.
"Wios, ga usah makasih." (Wios artinya tidak apa apa) Sambil mengeluarkan sebungkus rokok di sakunya. Dan kutahu, bahwa rokok kreteklah yang dia pakai. Apakah itu alasan dia menolak rokokku? Aku tak tahu.
Dan aku pun melanjutkan pertanyaan.
"Om, kalau masalah sponsor penting ga?" Tanyaku
"Penting sih. Tah, itu salah satu yang sedang om lakukan. Sponsor." Sambil menghisap rokoknya.
"Tapi, apakah om yakin dengan rencana om ini?"
"Ohh tentu sangat yakin. Tidak menyerah." Wajahnya penuh dengan sikap optimisme dan ekspresif sehingga tidaklah bosan berbicara dengannya.
Hujan masih juga, dan tiba-tiba atap rumahku sedikit bocor, sehingga mengenai meja bertaplak kain. Lalu ku pindahkan meja itu sampai ke titik tidak terkena bocor dan meletakkan sebuah baskom di titik kejatuhan bocor untuk menampung airnya.
Mamahkupun datang dengan kopi dengan talenan sambil mengenakan celemek.
"Nih kopinya om Iwan." Kata mamah sambil meletakan kopinya dari nampan.
"Ohh siap siap. Makasih bu Cecep." Kata om Iwan
"Aku nggak mah?" Tanyaku
"Kopinya habis. Beli dulu sana di warung."
"Ya udah ga apa apa ga usah."
"Malesan. kamu masih muda." Kata om Iwan sambil tertawa
"Muda muda juga punya males kan boleh. Lagian warung jauh dan motor di pakai papah."
Lalu om Iwan menyeruput kopinya dan katanya enak. Hanya sayang, di negri sana masih beradu peluru berkaliber 1 inc. Semoga Tuhan memberkati negeri itu.
"Ohh iya om." Kataku. "Bukankah proyek pertunjukan yang om buat sudah sangat lama di rencanakan. Kira-kira dari kapan om?"
"20 tahun yang lalu."
"Wihhh, lama bener. Serius om."
"Serius. Nggak main." Wajahnha masih terlihat menarik.
"Kau tahu apa yang membuat om tidak menyerah?" Tanya om Iwan.
"Apa tuh om."
Sambil berdiri dari kursi, petir menyambar dan pintu tiba-tiba terbuka sehingga angin menggerakan rambutnya yang panjang itu.
"Dengan iman."
Kata om Iwan sambil mengepalkan tangan dan menepuk dalam dadanya. Aku terkesima melihatnya sungguh menarik dan meyakinkan. Tapi sayang, aku belum terlalu paham.
"Mungkin kamu belum paham." Kata om iwan seperti menebak fikiranku. "Dan sekarang, kamu resmi menjadi anggota Dapur Musik Teater!"
"Aku?" Tanyaku.
"Tentu siapa lagi."
Waktu itupun aku di masukkan ke dalam grup Dapur Musik Teater oleh om Iwan. Entah jadi bagian apa, yang penting aku menjadi anggotanya.
Tiba-tiba, hujanpun reda.
"Mari solat dzuhur!" Seru om Iwan.
Tidak lama setelah sholat, terdengar suara motor yang berarti papah telah pulang. Perbincanganpun di teruskan dengan topik yang sama, masalah: Proyek pagelaran seni pertunjukan Dapur Musik Teater. Musik blues ku setel untuk menemani suasana perbincangan. Hujanpun mereda.
Sedangkan disini aku sedang duduk bersama om Iwan. Di ruang tamu yang rapih dan bagus beserta hujan yang masih turun dan masih pagi.
Pembicaraan kami bukan seputar negeri berdarah itu. Karna kami masih membicarakan konsep di negeri ini yang belum selesai. Walaupun tidaklah besar. Konsep seni Pertunjukan musik.
"Om, bagaimana masalah konsep pertunjukan musik?" Tanyaku
"Ohh, tentu diusahakan terealisasikan." Sambil melihat smarthphonenya.
"Nih, ada beberapa orang yang ikut mensupport dan ingin mensegerakan." Ujarnya.
"Apakah dari persiapannya sudah matang?"
"Dari konsep sih sudah. Sudah lama telah di siapkan."
"Ada Tapi?"
"Tapi memang belum matang sih walaupun hanya beberapa."
"Apa yang beberapanya itu?"
"Menurut om pribadi sih, adapun beberapa persiapan yang harus di lakukan. Pertama konsep, kedua support dan yang ketiga baru penempatan tempat dan waktu."
"Keempat?"
"Ahh, kamu nih banyak tanya. Jelas jalannya pertunjukkanlah." Tertawa sambil memperlihatkan giginya yang kuning karna banyaknya nikotin terkonsumsi dengam kumisnya yang tebal dan rambutnya yang panjang bergelombang. Memang dia seorang peranakan seniman teatrikal. Ekspresif.
"Nih om mau rokok?" Aku tawarkan rokok putih milikku.
"Wios, ga usah makasih." (Wios artinya tidak apa apa) Sambil mengeluarkan sebungkus rokok di sakunya. Dan kutahu, bahwa rokok kreteklah yang dia pakai. Apakah itu alasan dia menolak rokokku? Aku tak tahu.
Dan aku pun melanjutkan pertanyaan.
"Om, kalau masalah sponsor penting ga?" Tanyaku
"Penting sih. Tah, itu salah satu yang sedang om lakukan. Sponsor." Sambil menghisap rokoknya.
"Tapi, apakah om yakin dengan rencana om ini?"
"Ohh tentu sangat yakin. Tidak menyerah." Wajahnya penuh dengan sikap optimisme dan ekspresif sehingga tidaklah bosan berbicara dengannya.
Hujan masih juga, dan tiba-tiba atap rumahku sedikit bocor, sehingga mengenai meja bertaplak kain. Lalu ku pindahkan meja itu sampai ke titik tidak terkena bocor dan meletakkan sebuah baskom di titik kejatuhan bocor untuk menampung airnya.
Mamahkupun datang dengan kopi dengan talenan sambil mengenakan celemek.
"Nih kopinya om Iwan." Kata mamah sambil meletakan kopinya dari nampan.
"Ohh siap siap. Makasih bu Cecep." Kata om Iwan
"Aku nggak mah?" Tanyaku
"Kopinya habis. Beli dulu sana di warung."
"Ya udah ga apa apa ga usah."
"Malesan. kamu masih muda." Kata om Iwan sambil tertawa
"Muda muda juga punya males kan boleh. Lagian warung jauh dan motor di pakai papah."
Lalu om Iwan menyeruput kopinya dan katanya enak. Hanya sayang, di negri sana masih beradu peluru berkaliber 1 inc. Semoga Tuhan memberkati negeri itu.
"Ohh iya om." Kataku. "Bukankah proyek pertunjukan yang om buat sudah sangat lama di rencanakan. Kira-kira dari kapan om?"
"20 tahun yang lalu."
"Wihhh, lama bener. Serius om."
"Serius. Nggak main." Wajahnha masih terlihat menarik.
"Kau tahu apa yang membuat om tidak menyerah?" Tanya om Iwan.
"Apa tuh om."
Sambil berdiri dari kursi, petir menyambar dan pintu tiba-tiba terbuka sehingga angin menggerakan rambutnya yang panjang itu.
"Dengan iman."
Kata om Iwan sambil mengepalkan tangan dan menepuk dalam dadanya. Aku terkesima melihatnya sungguh menarik dan meyakinkan. Tapi sayang, aku belum terlalu paham.
"Mungkin kamu belum paham." Kata om iwan seperti menebak fikiranku. "Dan sekarang, kamu resmi menjadi anggota Dapur Musik Teater!"
"Aku?" Tanyaku.
"Tentu siapa lagi."
Waktu itupun aku di masukkan ke dalam grup Dapur Musik Teater oleh om Iwan. Entah jadi bagian apa, yang penting aku menjadi anggotanya.
Tiba-tiba, hujanpun reda.
"Mari solat dzuhur!" Seru om Iwan.
Tidak lama setelah sholat, terdengar suara motor yang berarti papah telah pulang. Perbincanganpun di teruskan dengan topik yang sama, masalah: Proyek pagelaran seni pertunjukan Dapur Musik Teater. Musik blues ku setel untuk menemani suasana perbincangan. Hujanpun mereda.
Komentar
Posting Komentar