Lisa
Nona lisa
Namamu masih kurawat dalam ingatan. Seorang gadis bermata sipit berkacamata dengan kulit kekuningan. Badannya tinggi kurus tapi masih terlihat sehat. Seorang Cina paten.
Pertama kali bertemu saat kami berpas-pasan di perpustakaan kota di lantai 3 ruamg kearsipan. Masih pagi sekitar jam 8. Dia terlihat sedang mencari buku. Saat itu, kami belum saling kenal. Dan aku bertanya padanya.
"Buku apa yang sedang kau cari?" Tanyaku. Kebetulan, aku tahu sedikitnya tempat-tempat buku disini karna seringnya menyinggah disini. Bukan karna kutu buku, tapi sunyinya yang membuatku selalu suka disini karena tempat ini bertuliskan larangan berisik. Berisik yang mengganggu ketenangan.
"Can you speak english?" (Artinya: bisakah kamu berbahasa inggris?) Jawabnya berlogat cina. Wajahnya memang cina.
"Of course. Is there anything i can help?" (Artinya: tentu. Adakah yang bisa saya bantu?) Tanyaku dengan sedikitnya ilmu sastra britania yang kutahu.
"Ohh boleh. Aku sedang mencari buku. Bisakah kamu bantu?" (Aku langsung terjemahkan saja. Karna cape)
"Buku apa yang kau cari?"
"Tetralogi pulau buru"
"Kenapa tidak kau cari di komputer pencarian?"
"Aku orang baru disini."
Lalu kutunjukan komputer percarian itu yang berada di sebelah meja penjaga ruang kearsipan. "Silahkan kau tulis apa yang kau cari. Kamu mengerti menggunakannya?" Terlihat dia tak mengerti bahasa program komputer pencarian, jadi aku membantunya. "Tadi apa judulnya?"
"Tetralogi Pulau Buru."
Ku ketik judul itu di kolom pencaharian. Enter. "Di rak 3 nomor 13" Kataku
Ku ketik judul itu di kolom pencaharian. Enter. "Di rak 3 nomor 13" Kataku
"Bisakah kau tunjukan tempat itu?"
Lalu kutunjukan rak 3 nomor 13 itu. Aku yakin dia bukan malas mencari, tapi perpustakaan ini memang berbahasa asing baginya. Tapi pertanyaanku, bukankah buku yang dia cari buku berbahasa Indonesia? Atau mungkin ada terjemahan britanianya? Aku kurang tahu
Lalu kutunjukan rak 3 nomor 13 itu. Aku yakin dia bukan malas mencari, tapi perpustakaan ini memang berbahasa asing baginya. Tapi pertanyaanku, bukankah buku yang dia cari buku berbahasa Indonesia? Atau mungkin ada terjemahan britanianya? Aku kurang tahu
Sampai di rak, ternyata benar. Ada terjemahannya. Lalu di ambilah buku itu olehnya. Buku itu ada 4 jilid karya Pram. Dia mengambil buku jilid 1 yang berjudul bumi manusia. Dan akupun mengambil buku sebagai prioritas saja.
Kemudian kami menuju meja tempat membaca melewati orang-orang yang sedang duduk tertunduk pada buku. Entak tugas, atau apalah itu kemenarikan mereka.
"Ohh iya aku lupa bertanya. Siapa namamu?" Tanyanya
"Namaku Tio marko. Panggil saja mark atau tio juga boleh, terserah enaknya kamu."
"Tio saja lebih enak." Katanya tersenyum meringis." Terima kasih sudah membantu Tio
"Sama sama. Dengan senang hati." Aku juga ikut senyum. "Ehh lupa, namamu siapa?"
"Lisa" Jawabnya
Kupandang wajahnya, ia tertunduk tak tahu mengapa. Mungkin kaena tidak terbiasa dengan hal itu.
"Kamu dari cina ya?" Tanyaku
"Iya"
"Cina bagian mana?"
"Di kota guangzhou."
"Ohh tempat itu aku tahu. Kalau tidak salah, gunung baiyoun adalah salah satu tempat menariknya."
"Kok tahu?"
"Kebetulan saudara dari sahabat temanku pernah kesana."
"Ohh begitu." Sambil memandang suasana di balik jendela. Suasana kota. "Kotaku sangat banyak tempat yang menarik. Lai kali mainlah kesana."
"Kau mengajakku?"
"Hanya menyarankan" Tertawalah kami
"Ssttt, jangan terlalu berisik!" Kata salah seorang sebelah meja kami.
"Maaf mengganggu." Jawabku senyum mengalah. " Jangan terlalu berisik lisa" Kataku mengecilkan volume. Dia pun mengangguk.
"Sepertinya memang sangat indah kotamu itu."
"Begitulah."
"Tapi kenapa kamu jauh-jauh datang kesini?"
"Mencari pengalaman Tio" Katanya senyum lagi
"Pengalaman kok jauh jauh kemari. Sekarangkan sudah canggih, keajaiban teknologi sekarang, tanpa kau singgahi pun, kau sudah tahu betapa luasnya dunia ini." Kataku "kebetulan kata- kata ini aku ambil dari buku yang ingin kau baca, hanya ku ubah sedikit" Kataku tertawa kecil takut mengganggu lingkungan sekitar.
"Kalau tidak singgah, pasti susah berkenalan dengan orang sepertimu" Katanya sambil senyum lagi
"Oh iya ya. Manusia terlalu banyak di bumi ini. Bumu manusia."
"Itukan Judul buku ini" Katanya sambil tertawa kecil. "Sudah baca buku ini Tio?"
"Sudah. Filmnya pun sudah di tayangkan?"
“ohh begitu ya. Benar memang sudah di filmkan?"
"Tentu." Lalu aku mengambil buku itu darinya. "Apa yang menarik dari buku ini Sa?"
"Menariknya buku itu darj cerita guruku. Guruku yang bilang dia terinspirasi dari itu hingga membawanya menjadi aktivis di kotanya."
"Sungguh sampai terinspirasi?"
"Sungguh Tio."
"Lisa. Aku pun penggemar buku-buku karangannya. Walaupun, waktu itu banyak sekali kontroversi yang membuat hidup pengarangnya sangat lama di penjara. Sekitar 20 tahun."
"Hahh yang benar. Kenapa bisa begitu?" Tanyanya rerheran heran
"Entahlah. Mungkin ideologinya yang menggugat dirinya seperti itu. Banyak kabar, katanya dia orang yang dikagumi di seluruh negara luar, tapi tidak disini. Karena katanya lagi, sikapnya yang menyinggung pengarang sastra lainnya dan tuduhan pemikiran komunisnya."
"Sayang sekali." Katanya terlihat kecewa."
"Tapi itu sudah dulu. Memang dulu, orang susah mencari informasi yang kongkrit, sehingga banyak pandangan dangkal akan hal itu. Sampai sampai bukunya tak boleh di sebar luaskan oleh pemerintah. Waktu-waktu yang tak jauh dari sekarang, bukunya menjadi booming kembali terutama buku yang ingin kamu baca. Pemikirannya memang luar biasa." Kataku sambil memberikan bukunya kembali.
"Bagiku, bukan masalah pribadi seseorang. Tapi, perubahan dunia dari seseorang tersebut. Siapapun itu. Adapun seorang pemabuk, penjilat, mata keranjang dan apapun yang buruk darinya sebagai bajingan, telahmembuat perubahan dalam dunia sastra. Itulah pandanganku. Aku hanya ingin tahu asal usul saja." Katanya
Sungguh diri salut terhadap gadis itu. Sungguh salut. Jarang sekali aku bertemu dengan seseorang seperti itu, atau duniaku masih terlalu sempit. "Kamu memang bukan orang yang biasa lisa. Semoga Tuhan memberkati orang sepertimu."kataku memuji
"Ahh biasa saja Tio. Justru orang yang seperti kamu yang luar biasa." Katanya memuji balik.
"Sungguh hebat bukan kepalang orang sepertimu Jauh-jauh belajar suath hal yang baru. Padahal adapun pepatah mengatakan tuntutlah ilmu walau ke negri cina. Cina bangsamu lis" Kataku tertawa kecil
"Sebagai sesama bangsa, kesadaran adalab penting. Aku selalu di ajarkan untuk selalu mencari sesuatu hal yang baru. Dan hal baru itu selalu keliru dan aku mencarinya terus. Ya begitulah. Maaf bukan maksud menggurui Tio"
"Tenang aja lis. Kita sama-sama saling belajar, itulah mengapa kita bisa kenal seperti ini. Sangat menarik."
Tidak terasa sudah siang. Terlalu keasikan kami berbincang, membuat Lisa lupa untuk membaca bukunya. "Ya Tuhan, aku sampai lupa membacanya" Katanya senyum, lalu melihat jam di tangannya.
"Sudah jam 11.40. Saatnya aku pulang." Iyapun berkemas kemas buku miliknya dia masukkan kedalam tas. "Oh iya tio, buku ini bisa kupinjam ga ya?"
"Tentu bisa. Tapi kamu punya kartunya. Paling aku yang pinjam karna aku punya kartunya. Proses pembuatan kartu perpustakaan disini sangat lama, pelayanan murahan."
"Makasih banyak Tio. Entah apa yang terjadi jika kita tidak bertemu."
"Sama-sama Lisa dengan senang hati. Tapi awas jangan hilang bukunya dan harus di kembalikan!! Nanti aku yang kena." Perintahku.
"Pastinya Tio. Percayakan padaku." Katanya dengan senyum yang benar benar meyakinkan dan aku percaya.
Setelah Lisa mendapatkan buku yang ingin di pinjamnya, kami pun turun melewati lift menuju lantai utama.
"Kapan-kapan kalau ada waktu mainlah ke kontrakanku. Ini alamatnya." Dia berikan kertas bertuliskan alamatnya padaku.
"Dengan senang hati Lisa." Kataku senyum bahagia. Bahagia? Aku benar benar bahagia entah kenapa. Jangan katakan ini adalah filosofi pandangan pertama.
Itu sudah dulu sekali 2 tahun yang lalu. Kudengar dari internet kabarnya, dia sedang meniti karir advokat. Namanya sedikit terkenal disana dan entahlah kabar lainnya dari itu. Sekarang Lisa sudah kembali ke negara asalnya. Terakhir aku bertemu dengannya seminggu kemudian saat dia ingin mengembalikan buku pinjamannya dan dia memberitahu keberangkatannya besok.
Itu sudah dulu sekali 2 tahun yang lalu. Kudengar dari internet kabarnya, dia sedang meniti karir advokat. Namanya sedikit terkenal disana dan entahlah kabar lainnya dari itu. Sekarang Lisa sudah kembali ke negara asalnya. Terakhir aku bertemu dengannya seminggu kemudian saat dia ingin mengembalikan buku pinjamannya dan dia memberitahu keberangkatannya besok.
Maaf Lisa, aku belum sempat mengunjungi rumahmu. Jadwalku terlalu sibuk. Saat itu aku harus menghadapi ujian kenaikan tingkat yang tinggal menghitung hari. Pertemuan kita terlalu singkat. Maaf Lisa
Ohh Lisa. Ternyata kau lebih tua dariku. Bolehkah ku sebut kau nona? Nona Lisa. Lisa. Lisa. Lisa. Aku ingin bertemu lagi.
Komentar
Posting Komentar