Teater dan Absurd

Teater dan Absurd

"Nihil + Eksis = Absurd?"

 

1

 

Buah Batu, Bandung, 20 Oktober 2022.

Rintik air malam hari yang lembut nan pelan menggiring suasana yang sukar terdiam. Itulah perasaan yang didapat. Di kosan berukuran 2x3 meter di dalam gang yang terletak dekat kampus di Buah Batu, kelembapan udara kosan dari udara sela-sela gang sempit dan padat memantik kopi yang tidak boleh dingin dan tembakau yang harus selalu membara. Kosan itu dihuni teman saya bernama Mukhlis, yang berasal dari perbatasan Purworejo dan Jogja. Kebetulan dia kuliah satu kelas bersama saya. Saya disini sebenarnya ingin mengerjakan tugas bersama-sama, namun apalah daya kebosanan memudarkan niat, sehingga kami berbincang entah arah tujuan.

Dan ini salah satu percakapannya;

“Patanjala. Aku sudah menemukan berbagai data tentangnya.” Kataku kepada Mukhlis. “Sayang aku belum bertemu dengan salah seorang dosen dari Kampus Nangor. Tapi tak apalah, mungkin lain kali yang tepat.” Lanjutku

“Emang data apa yang kau dapat pak.” Kata Mukhlis sambil mengelus rambut gondrong nan gimbalnya.

“Ternyata, banyak naskah yang membahas tentang Patanjala. Tapi belum kukaji dari masing-masing naskah. Itulah sebab ku ingin bertemu dengan ahli Filologi Unpad.” Kataku. “Adapun salah satu naskah yang menjelaskan, bahwa kata Patanjala itu ada kaitannya dengan daerah yang berada diantara Gunung Merbabu dan Merapi.”

“Oh iya? Itu dekat kampungku pak.” Kata Mukhlis. Mendengar itu saya-pun senang, karena mungkin saja bila untuk mengunjungi tempat tersebut, saya bisa mampir ke rumahnya yang dekat kataku. “Ohh tentu boleh pak. Sekalian aja nanti libur semester.”

 

2

 

Ditengah perbincangan kami yang sebanarnya tanpa arah, rintik air berhenti secara menggradasi membuat obrolan saat itupun terjeda. Kami kemudian melanjutkan menyelesaikan tugas dari dosen yang merepotkan ini. Tiba-tiba, datang seorang penghuni kosan kamar sebelah bernama Adian dengan pakaian kemeja lusuh menghampiri kami.

“Ada kopi Muk?” tanyanya ke Mukhlis.

“Ada-ada. Ini tingal ku buatkan air panas.” Kata Mukhlis sambil memencet tombol pemanas air yang berbentuk teko.”Dari mana bang?"

“Dari kampus. Biasa.” Jawab Adian.

“Ayo bang Ngopi.” Kataku sambil mengangkat cangkir kopi.

“Bukannya lagi nugas?” tanya Adian.

“Santai.” Kataku.

“Okelah. Bentar, aku mau beli rokok dulu ke warung,” kata Adian.

“Ini ada bang.” Kataku sambil menunjukan rokok filter.

“Aku butuh rokok nonfilter.” Kata Adian.”Sebentar aku ke arung dulu.” Kemudian Adian pergi menuju warung.

Sebelumnya, saya sudah bertemu dengannya sepekan lalu. Dia adalah mahasiswa S2 Pengkajian Seni di tahun itu, yang meminatkan diri pada kesenian teater. Dia berasal dari kota Curug daerah Bengkulu. Adian ini adalah pelaku kesenian teater yang dapat dibilang profesional karena kariernya yang cukup terhitung lama. Dia juga memiliki komunitas dari kota asalnya.

 

3

 

Beberapa waktu kemudian, datanglah Adian masuk ke ruang kosan kami berdua. Dia duduk di dekat pintu.

“Aduh. Besok presentasi, mana pula belum matang,” Kata Adian. Kemudian dia menyalakan rokok.

“Oh iya? Tegang amat bang?” kataku.

“Kalau bisa dibilang, aku ini iri pada kalian yang masih S1. Mudah betul kalian mengerjakan tugas untuk presentasi.” Kata Adian. Saya dan Mukhlis-pun tertawa kecil.

Kemudian Adian bicara tentang dirinya yang sedang memiliki projeck ujian tengah semester di kampusnya. Ujian yang saat itu ia jalani adalah membuat Seni Pertunjukan Teater. Dia membuat naskahnya sekaligus sutradara. Dia sekelompok dengan seorang tokoh budayawan di Bandung yang kebetulan sekelas dengannya.

“Oh iya? Dia jadi apa dia?” tanyaku.

“Jadi pemain panggung dia.” Jawab Adian.

“Ohh.” Kataku sambil mengangguk kepala.

“Aku nih bingung sama dosen. Naskahku kubuat baru 5 menit. Tapi bisa ya langsung di ACC.” Kata Adian.

“Kok bisa? 5 menit sudah jadi bang?” tanya Mukhlis yang bangun dari diamnya.

“Ya...., baru sinopsisnya sih.” kata Adian. “Tapi sejujurnya ya Fikri, aku klo masalah membuat naskah drama, seperti menanam padi di sawah.” Lanjutnya menatapku.

Kemudian dia menceritakan tentang naskahnya untuk UTS itu pada kami prihal konsep dan kapan di lakukan kepadaku dan Mukhlis.

Setelah ia penjelasan selesai, kemudian ia ingin memperlihatkan buku naskah yang pernah dia buat sebelumnya. “Muk, masih ada buku yang kemarin?”. Kemudian Mukhlis memberikan buku naskah Adian yang berjudul Perempuan dan Pelukis kepadaku.

Akupun melihat-lihat buku itu dengan singkat di sekitaran halaman pertama. “Baru di cetak ya bang?” tanyaku.

“Sebenarnya sudah kubuat 6 tahun yang lalu, tapi baru saja ku cetak.” Kata Adian. “Kuminum kopinya ya?” Tanya Adian ke Mukhlis.

“Monggo bang.” Jawab Mukhlis yang sedang melinting tembakau.

Aku pun menlanjutkan membaca singkat naskah Perempuan dan Pelukis. “Ga ada sinopsisnya ya?” tanyaku

“Ini buku naskah bukan novel.” Jawab Adian.

“Bisa jelasin cerita naskah ini bang?”

“Coba boleh kulihat dulu halamannya?.” Sambil mengambil buku naskahnya yang ku genggam. Lalu ku berikan padanya. 

Setelah itu, ia menerangkan tentang naskah drama ciptaanya dengan eksplisit. Secara garis besar, naskah tersebut menceritakan tentang seorang wanita yang dilukis dan pria sang pelukis beserta asistennya. Aktor perempuan tersebut meminta pada sang pelukis untuk melukiskan dirinya. Namun permasalahan yang terjadi adalah warna cat yang harus sesuai dengan keelokan tubuh sang wanita agar pantas di goreskan di kanvas. Dalam imaji sang pelukis, warna tersebut sangat sukar untuk di dapat. Dia meminta asistennya untuk mencarikan warna tersebut, namun warna tersebut tidak kunjung di temui. Alurnya ceritanya yang bagiku begitu sepi dan membosankan, namun terus terang sangat menarik. Saat dia usai menceritakan naskahnya yang bagiku terkesan berulang, aku teringat sesuatu akan sebuah karya Albert Camus.

Kemudian aku terdiam berfikir dan menyalakan rokok setelah mendengarkan cerita naskahnya.“Kalau ku ingat, naskah ini seperti Sisyphus.” Kataku, kemudian menghisap rokok.

“Exactly. Inspirasi beliau melahirkan naskah yang kubuat. Tapi, aku hanya menjadikan teorinya sebagai alur. Bukan esensinya.” Kata Adian. “Bahkan dosen berkata bahwa naskah ini adalah Albert Camus versi reproduksiku.” Tambahnya sambil tertawa.

“Sudah berapa kali dipakai naskahnya bang?” Tanya Mukhlis

“Ini naskah kubuat tahun 2016, sudah lumayan lamalah ku pakai tour teater.” Jawab Adian sambil meminum kopi. “Ada cerita, waktu itu orang Padang sengaja datang ke pertunjukan teater ku dari naskah ini. Dia berpendapat bahwa pertunjukan teater ini adalah yang paling mengerikan dan menjijikan yang pernah disaksikannya.” Kata Adian sambil tertawa. Kemudian Aku dan Mukhlis-pun ikut tertawa.

“Lah kok bisa dia berpendapat begitu?” Tanyaku.

“Entahlah, tapi yang tak kuduga, dia sudah dua kali melihat pertunjukan teater dari naskah ini.” Jawab Adian, lalu mengangkat buku naskahnya. “Lalu aku bertanya padanya. 'Apa hal yang membuatmu datang kembali untuk melihat pertunjukan mengerikan ini?'.” Kata Adian yang membuat aku dan Mukhlis tertawa-tawa kecil. “Terus dia menjawab. ‘Entahlah. Walaupun begitu menjijikan dan mengerikan, entah mengapa aku tertari dengan naskah ini. Makannya aku jauh-jauh dari Padang untuk kesini’.” Lanjut Adian

“Emang waktu itu tour dimana?” Tanyaku

“Tournya, masih di daerah kotaku. Curug.” Jawab Adian sambil meminum kopinya.

“Itu naskah buat TA bang?” Tanyaku

“Ohh enggak. Ada juga naskah lain yang sudah  kubuat untuk TA.” Jawab Adian.

“Naskah apa bang?” Tanyaku.

“Judulnya Ruang Tunggu.”

“Cerita tentang apa naskah itu bang?” Tanyaku lagi

Kemudian diapun bercerita kembali tentang naskah Ruang Tunggu yang dia buat. Dia mengemaskan teori absudnya kedalam naskah itu. Naskah itu sangat memantik seseorang untuk berfikir rasional. Di dalamnya terdapat opininya terkait disintegrasi linguistik, sistem angka administratif negara, dan masih banyak yang lainnya yang menuangkan ide eksistensialis dan nihilis.

“Nggak sabar mau nonton naskah itu. Kayaknya, alur naskah itu lebih menarik bagiku di banding yang tadi.” Kataku sambil tertawa kecil.

“Ya nanti pasti bakal di tampilin di gedung Sunan Ambu. Dosen sudah berjanji untuk ini.” Kata Adian.

Kemudian, obrolan kami pun berlanjut dan semakin berlanjut. Tentang teater absurd, penciptaan karya teater, sampai akhirnya, lama di pembahasan paradigma ketuhanan dan agama dengan pendekatan rasional yang bersifat absurd. “Tuhan itu tidak terdefinisi.” Kata Adian yang menggambarkan deklarasi dirinya sebagai agnostik.

Dari semua perbincangan ini, memang dapat dengan mudah menggoyahkan iman keagamaan, namun aku sudah biasa dengan hal ini. Tapi obrolan kali ini terbilang mengesankan. Apalagi pemaparan Adian dari literatur-literatur yang menambah wawasan ketidak tahuanku tentang banyak hal.

Tidak terasa di tengah perbincangan kami, waktu tidak terasa sudah mendekati adzan subuh. “Aduh ga kerasa jam segini.”. Kata Adian sambil melihat hp. “Iya yah.” Kata Mukhlis. Sebenarnya aku-pun sudah mulai menyipitkan mata yang tertahan. “Ya udah sampai disini saja bincangnya. Mana besok presentasi jam 9.” Kata Adian sambil tertawa kecil. “Oke, sampai bertemu kembali.” Kataku. Kembalilah Adian menuju kamarnya.

“Aku juga pulang ya Muk.”Kataku sambil mengemas barang yang kumasukan kedalam ransel.

“Gak nginep disini fik?” tanya Mukhlis.

“Nggak dulu. Mumpung jalan masih sepi jam segini. Hehehe.”.

Tak lama kemudian, adzan subuh berkumandang. 

 

 


Komentar

Postingan Populer