Catatan 2
Jika kita berpijak pada premis bahwa segala sesuatu di semesta ini pada akhirnya akan luruh menjadi debu, maka lahirlah tiga perspektif utama dalam menjalani hidup:
1. Berpegang pada keyakinan yang indah (Sebuah pelarian metafisik menuju harapan-harapan yang menenangkan)
2. Mengakhiri hidup (Menyerah pada kesia-siaan karena beban eksistensi yang dianggap terlalu berat)
3. Penerimaan total (Mengakui bahwa hidup memang begini adanya—absurd, namun tetap indah untuk dijalani)
Dalam kacamata filsafat Absurdisme, pilihan ketiga adalah yang paling bijak. Sayangnya, banyak orang justru menghindari jalan ini karena ia tidak menawarkan kenyamanan instan; seakan-akan sulit dijalani dan tidak terlihat manis.
Pilihan pertama biasanya lahir dari para pujangga yang menafsirkan dunia melalui spektrum batin dan hal-hal yang tak kasatmata. Sementara itu, pilihan kedua sering kali muncul sebagai konsekuensi dari pilihan pertama—sebuah pelarian ekstrem karena paksaan untuk percaya pada kehidupan setelah mati, sembari menganggap dunia yang kejam ini tak layak ditinggali.
Mereka lupa bahwa satu-satunya keindahan yang nyata adalah hidup itu sendiri. Tidak lain dan tidak bukan. Oleh karena itu, saya menganggap pilihan ketiga sesungguhnya adalah pilihan yang paling profetik.
Jika memang dunia harus berakhir menjadi debu, mengapa kita tidak menikmatinya saja? Menjadi "sesuatu" di dunia ini demi mencapai kebahagiaan pribadi adalah sebuah keniscayaan yang agung. Bukankah begitu?
Di samping itu, saya tetap memilih untuk percaya kepada Tuhan. Namun, Tuhan bagi saya adalah Dzat yang Maha Luas dan melampaui segala definisi. KeindahanNya terpancar melalui absolutitas kehidupan dan segala hal yang mendatangkan kebahagiaan.
Mencoba mendefinisikan-Nya hanya akan mempersempit keindahanNya di dalam ruang absurd yang tak bertepi ini.
Bandung
Komentar
Posting Komentar