Catatan 1

Pada hakikatnya, bumi ini adalah surga. Di atasnya, ruh anak-anak bergerak layaknya malaikat. Namun sayang, lekas datang dan pergi. Bukankah pada akhirnya, keabadian hanyalah sebuah lingkaran yang tetap sama?

Suatu ketika, Tuhan termenung: "Sungguh, banyak dari ciptaan-Ku yang keliru." Namun, di tengah hiruk-pikuk kekeliruan itu, Ia melihat ciptaannya. Anak-anak. Mereka berlari riang mengitari ruang-ruang yang kacau tanpa sedikit pun peduli. Mereka adalah segumpal daging muda dengan aroma senyum yang harum, tertawa tanpa beban sembari melontarkan tanya polos tentang dunia yang serba keliru ini—tanya yang murni, tanpa siasat, tanpa kepentingan.

Melihat mereka, Tuhan tersenyum. Namun, dalam senyumNya, Tuhan pun terlena oleh sang waktu dan ciptaannya tentang nafsu. KepuasanNya dalam mencipta justru melahirkan sebuah monster waktu yang merenggut jiwa kanak-kanak itu yang bernama "Dewasa". Segumpal daging yang ceria itu musnah dalam kematian yang dingin dan menyisakan harap untuk kembali abadi dalam kebahagiaan yang sejati.

Menyadari konsekuensi dari keputusanNya, Tuhan pun mengambil keputusan yang Terbijaksana. Maka, Ia memutar kembali porosnya. Anak-anak kecil itu dilahirkan kembali ke bumi, berulang dan terus berulang seperti siklus komedi putar yang tak pernah usai. "Tuhan memang egois, dan itu hakNya"

Namun, beberapa dari mereka yang "Dewasa" melawan. Hak kami untuk bahagia, biarkanlah kami tetap menjadi segumpal daging yang selalu bertanya dan menjadi jiwa yang tersenyum bahagia diantara ciptaanMu yang indah.


Bandung, Sekre LSB Jalan Banteng (interpretasi setelah membaca buku Cecilia)

Komentar

Postingan Populer