Berawal dari Lumerian
"Adakalanya, penundaan sukar dihindari"
1
Cicalengka 21 Oktober 2022
Menjelang sore, aku dan kawanku; Mukhlis, Brisha, Alvina, dan Farhan, menyusuri gang sempit di Cicalengka. Kebetulan, kami baru saja mengerjakan tugas wawancara yang setelah itu pula, Brisha mempersilahkan kami mengunjungi rumahnya.
Sesampainya kami di
rumah Brisha, kami bertemu dengan Abah atau Ayah
Brisha yang sedang duduk di kursi teras, untuk menunggu
kedatangan kami, bersama istri di sebelah kanannya yang kami panggil Ema’. Waktu sampai, jam sudah
menunjukan pukul
4.00.
Rumah Brisha yang sederhana, kentara dengan tanaman
hias yang menyejukan mata. Hal itu, membuat sensasi keindahan yang serba hijau, menjadi seperti rumah kebun penjualan tanaman hias. Terlihat pula di sudut teras, aquarim yang diisikan 2 ikan besar, tapi nampak air yang sudah lama belum dikuras.
Kami-pun bersalam-salaman dengan Abah dan istrinya yang merupakan orang tua Brisha.
"Assalamualaikum Abah."
"Wa'alaikum salam. Silahkan. Duduk-duduk!" Suruh Abah.
Kemudian kami mengangguk, lalu duduk perlahan sambil melepas sepatu. Setelah sepatu terlepas, aku mengambil tempat duduk di kursi pinggir dinding bersama Mukhlis.
Tampak pula Alvina mengambil tempat duduk di samping kiri Abah, Brisha masih mencopot
sepatunya serta Farhan berdiri disamping Ema’.
"Mau makan?" Tanya abah.
"Wios bah. gak usah." (Wios = Tidak
apa-apa) Kataku.
"Dari mana kalian?" Tanya abah sambil mengelus kepala yang sudah tak berambut dan nampak mengenakan 2 kalung dari batu berwarna hitam dan hijau, entah apa jenisnya, serta cincin perak batu berwarna merah delima.
"Dari taman baca Yah." Jawab Brisha
anak Abah yang melepas sepatunya, hendak masuk ke rumah.
"Ohh." Kata Abah, kemudian meminum
kopinya. "Mau kopi?"
"Bilih mau, saya buatin."(Bilih = Seandainya iya) Kata Farhan yang sedang duduk di samping istri abah.
Bila perlu dijelaskan, Farhan dan Brisha sudah menikah 4 bulan yang lalu. Mereka berdua adalah teman satu
kelasku. Maka, Farhan secara sah adalah menantunya Abah. Kabarnya saat ini, Brisha sudah hamil 3
bulan.
"Boleh-boleh." Jawabku
"Mau kopi apa? Arabica atau Expreso?"
Tanya Farhan.
"Arabica aja Han, punteun ya."(Punten
= 'maaf' karena ngerepotin) Jawabku.
"Yang lain gimana?" Tanya Farhan.
"Bebas Han. Samain aja semua kayak
Fikri." Kata Mukhlis yang duduk disamping saya.
"Vina, mau kopi juga?"
"Nggak Han, Aku udah beli Pop Ice." Kata Alvina sambil memperlihatkan minumannya yang dibungkus plastik.
"Oke."
2
Suasana penghujung sore
dengan awan yang sudah memperlihatkan cuaca mendung, namun curah hujan tak kunjung pula datang. Saya
memeriksa ponsel untuk melihat keadaan cuaca hari ini yang menginformasikan bahwa nanti malam
akan hujan.
Terlihat Alvina dan
Mukhlis ikut memainkan ponsel mereka masing-masing. Abah memperhatikan kami sambil
sekali dua kali meneguk kopinya. Farhan masih berada di dapur meracik kopi, sedangkan
Brisha masih ada di dalam rumah entah sedang apa. Suasana menjadi sunyi dan dingin
"Gini... Abah-kan banyak pengalaman, Abah ingin bercerita kepada kalian. Mungkin akan menjadi sumber referensi kalian terkait jurusan yang kalian lakoni." Kata Abah memecah suasana sepi. Abah adalah panggilan biasa kepada yang sudah tua. Menurut informasi yang ku dapat, Abah sendiri berumur sekitar 70 tahun, dan dia adalah mantan guru Bahasa Inggris di SMP.
Dari pembukaan percakapan itupun, kami masih tetap terdiam. Hanya menganggukan kepala.
“Tau kalian Lumerian?” Tanya Abah lagi.
Pertanyaan itu membuat kami bingung karena tidak tahu.
“Apa itu bah?” Tanya Mukhlis.
“Gak ada yang tahu Lumerian?” Tanya abah lagi..
“Emang ada apa bah dengan Lumerian?” Tanya
Alvina.
“Kalau kalain tak tahu, carilah
dulu sendiri apa itu
lumerian. Itupun kalau kalian tertarik.” Jawab Abah.
Kemudian suasana-pun menjadi sunyi karena mungkin sedang berfikir, atau gugup
nan kikuk karena situasi seperti ini.
“Udah ga usah didengerin! Abah-mah tos kolot.”
(Tos kolot = Udah tua) Kata Ema' yang duduk di sebelah kanan abah. Abah tampak tersenyum kecil. “Udah ah, saya ke dalam dulu.” Kata Ema' yang
langsung berdiri beranjak masuk kedalam rumah sambil menggarukan rambut putihnya. Jika dilihat-lihat, umur istri Abah, tidak berbeda jauh dengan Abah
itu sendiri.
“Yah. Memang abah sudah tua. Maaf ya.” Kata abah sambil tertawa. Kemudian kami ikut tertawa-tawa kecil. Suasana kikuk-pun, cair seketika.
“Lumerian? Jadi penasaran Bah?”
Tanyaku.
“Jadi Lumerian tuh, bangsa galaxy atau bisa
disebut awal peradaban manusia.” Kata Abah.
“Berarti, alien bah?” Tanya Alvina.
“Ya, Bisa dikatakan betul! Sebenarnya kalau di jelaskan secara sederhana, zaman dahulu kala, alien sudah datang ke bumi. Dan kita, adalah penerus peradabannya.” Jawab Abah.
“Berarti Nabi Adam alien ya bah?” Tanya Alvina.
Abahpun tertawa kecil mendengarnya. “Kalau bicara teori seperti ini, kita harus
sedikit melepaskan pengetahuan keagamaan. Karena, abah sendiri tidak yakin
betul akan hal itu.” Jawab Abah.
“Bukannya manusia dari monyet bah?” Tanyaku
dengan niat sedikit bergurau yang sebetulnya tidak begitu paham.
"Teori dungu itu. Mana ada manusia dari
monyet.” Kata Abah ambal tertawa.
Kemudian, Farhan datang membawa 4 cangkir kopi. “Nih Fik, Muk.” Kata Farhan sambil menyodorkan nampan. Lalu, kami ambil kopi tersebut.
“Ehmm.. Enak betul. Nuhun Han.”(Nuhun =
Terimakasih) Kataku setelah kopi kusuruput.
“Sama-sama.” Jawab Farhan.
“Diminum ya Han.” Tanya Mukhlis sambil mengangkat cangkirnya.
“Mangga, sok santai-santai” (Mangga = Silahkan)
Kata Farhan. Kemudian, Farhan-pun ikut duduk di samping Abah. “Dengar-dengar, tadi membahas
monyet Darwin?” Tanya Farhan.
“Nggak juga Han. Ini lagi ngebahas Lumerian.” Kataku
“Ohh. Gitu.”Kata Farhan sambil ikut duduk disamping Abah.” Sebenarnya yang ku tahu, Darwin dalam bukunya The Origins of
Spesies, tidak pernah mengatakan manusia itu dari monyet.”
Lanjut Farhan.
“Nahh betul. Namun entah mengapa orang dulu
mengembangkan hipotesis tersebut yang berujung pada kesimpulan bahwa manusia berasal dari kera. Kan beleggug.”(Belegug = Dungu) Pungkas Abah sambil tertawa kecil.
Kemudian, obrolan
yang menjadi diskusi-pun berlanjut dan terus berlanjut. Tentang Lumerian
secara singkat, lanjut ke kebatinan, kemudian Reinkarnasi, sampai menyambung pada konsep Jiwa,
Raga dan Nafs yang aku-pun belum begitu paham mendengarnya. Sebenarnya sedari awal, aku
tidak begitu tertarik dengan penjelasan tentang Lumerian. Tapi entahlah, aku jadi menikmatinya hingga hanyut. Berhubung, lumayan dapat informasi baru dan belum ku ketahui.
3
”Sudahlah.
membicarakan hal ini, pasti akan panjang. Tapi jika kalian tertarik, bisa kita
membahas ini lebih lanjut.” Kata Abah setelah sebelumnya berbicara cukup lama.
Lalu aku melihat arloji
yang terlihat sudah pukul 5.40, pertanda akan adzan maghrib.“Aduh, kayaknya, saya harus
pulang dulu Bah. Sudah mau malam. Hayu Muk.” Kataku mengajak Mukhlis karena aku ikut menebeng motor dengannya.
“Hayu-hayu.” Kata
Mufti.
“Disini saja dulu
padahal. Kalian juga belum makan.” Kata Abah membujuk.
“Wios Bah, belum
lapar.” Kataku kemudian berdiri.
“Santai aja kali.
Buru-buru amat” Farhan menimpal
“Iya ih buru-buru
amat.” Tambah Alvina.
“Asli punten inimah.
Udah mau malam.” Kataku sambil duduk bersiap-siap dengan memakai sepatu.
Disaat aku dan Mufti berdiri
dan hendak berpamitan, tiba-tiba hujan turun. Dan semakin besar ditambah
gemuruh petir.
“Aduh. Bawa jas hujan
Muk?” Tanyaku
“Kagak Fik.” Jawab
Mukhlis
“Sudah disini aja
dulu.Hujan” Kata abah
“Iya santai dulu kali
disini. Lonte aja belum keluar jam segini” Farhan menambahi.
“Iya euy.. kayaknya
bakal manjang disini.” Kataku sambil melihat Mukhlish.
Kemudian aku dan
Mukhlish pun melepas sepatu dan kembali duduk di pinggir tembok.
4
Hujan semakin
membesar, angin kencang ditambah gemuruh petir yang perlahan. Terlihat
tanaman-tanaman hias menari-nari kecil diterpa angin. Cuaca yang dingin dengan
kopi yang kehilangan kehangatannya, memantikku menyalakan rokok. Dan suasana, hening
sejenak.
“Abah ingin sharing
ke kalian.” Kata Abah menghidupkan suasana setelah lima menit hening.
“Gimana bah.” Tanya
Farhan.
“Kalian tahu
bagaimana rasanya menikah 40 tahun lamanya?” Kata abah.
“Bukannya bagus bah. Kan setia.” Kata Alvina
“Setia sih setia, tapi coba kalian
bayangkan. Setiap pagi, selalu melihat wajah yang sama selama 40 tahun.
Apalagi, Abah tipe orang yang jarang keluar.” Kata Abah yang kemudian meminum
kopinya.
“Gak kebayang Bah.”
Kataku.
“Kalian mau tahu?" Kata abah sambil memperhatikan kami satu-persatu. "Betapa
mengerikannya itu.” Lanjut Abah dengan nada yang menekan. Pernyataan itu-pun spontan membuat kami tertawa.
“Kok bisa bertahan
bah?” Kataku sambil tertawa.
“Aku kasih tahu ke
kalian ya.”. Abah menenggak kopinya lagi. “Jadi, Obrolan yang asik adalah kunci
utamanya.” Lanjut Abah
Saya pun berusaha
mengerti, memperhatikan sambil menganggukan kepala.
“Coba kalian fikir.
Jika obrolan sudah tidak asik, sudah pasti retak hubungan.”
Kata Abah
“Iya sih bah setuju.
Tapi, apa sih yang abah bicarakan selama 40 tahun itu. Kok masih bisa asik?”
Tanya Alvina sambil meminum minuman es-nya yang sudah sedikit.
“Mau tahu caranya?”
Tanya Abah
“Apa itu bah?” Tanya
balik Alvina
“Ghibah.” Jawab Abah.
Kemudian, kami
tertawa lagi. Apalagi terlihat Alvina yang teterpingkal-pingkal.
“Kok ghibah bah?” Tanyaku
“Kalau kalian tahu, ghibah
itu dapat menghasilkan imun yang baik. Imun yang baik, di hasilkan dari hormon endorfin. Hormon endorfin, dihasilkan dari rasa bahagia. Dan ghibah adalah salah satu yang membentuk kebahagian, karena, ada aja topik obrolan seru. Kagak abis-abis” Kata abah.
"Ohhh. Iya juga ya." Kataku sambil mengangguk kepala dan tertawa.
“Maaf ya, Abah kalau
ngomong suka kemana-mana. Ngelantur. Maklum tua” Kata Abah.
“Gapapa Bah. Justru
kami senang nambah wawasan.” Kata Mukhlis menghormati.
“Ya gitulah.. Tapi
kalian juga jangan terlalu mengikuti saya. Takutnya miskin.” Kata Abah.
“Bukan miskin kali
bah, Tapi sederhana.” Kataku yang kemudian membuat Abah tertawa.
"Betul Fikri. Jadi apa yang kamu katakan, Abah sangat setuju. Kalau kita kupas soal kemiskinan...."
Lalu, Abah-pun
menceritakan tentang paradigmanya terhadap kemiskinan. Menurut Abah, kemiskinan itu tidak
ada, yang ada hanya orang rakus yang membuatnya merasa miskin. Semua orang selama
masih hidup, dia sudah di penuhi kebutuhannya.
Dari penjelasan itu, sebenarnya aku tidak lagi terlalu mengerti. Bahkan, ada beberapa poin
yang tidak terlalu membuatku sependapat. Tapi tak mengapa, hal-hal itu tidak berguna pula untuk diperdebatkan.
“Layak Semar ya Bah.”
Kataku memotong.
“Iya betul. Seperti
macam begitulah.”
Kemudian obrolan
tetap berlanjut dan berkelanjutan.
5
Hujan mereda dari
pukul 7:30 dan berhenti pada jam 8:00.
“Aduh sudah malam
banget ni Muk. Pulang yuk.” Kataku
“Iya nih. Hayu Fik.”
Kata Mukhlis.
“Maaf ya, kalau Abah
terlalu banyak omong.” Kata Abah
“Santai bah. Saya
justru banyak berterima kasih sudah bisa berbincang seperti ini,” Kataku.
Jujur saja, dalam hati, perbincangan ini adalah sesuatu yang patut dirindukan.
Kemudian aku dan
Mukhlis pun berdiri dan bersiap-siap untuk berpamitan.
Lalu tiba-tiba, Brisha
keluar.
“Hayu makan dulu!”
Kata Brisha.
“Engga Sha, ini udah
mau pulang.” Kata Mukhlis.
“Ihh.. Udah aku buatin
dari tadi.” Kata Brisha. Dari situ kami baru mengetahui bahwa Brisha dari tadi
sedang masak untuk menjamu kami.
“Aduh repot-repot
Sha.” Kata Alvina.
“Ayo cepet ambil
makan. Gak enak udah dibuatin.” Kata Farhan.
“Abah gak mau kalian
makan sebelum pulang!” Kata Abah tegas
Kemudian aku melihat Mukhlis.
“Gimana Muk?” Tanyaku berbisik
“Udah ayo. Gak enak
udah di buatin.” Kata Mukhlis
Kemudian aku dan Mukhlis-pun
kembali melepas sepatu dan menuju ruang makan bersama Alvina, Farhan dan
Brisha.
“Ada saja yang menghalangi
kita pulang ya.” Bisikku pada Mukhlis.
“Aku yakin, kita pulang jam 10.” Kata Mukhlis berbisik. Aku hanya tersenyum tak percaya mendengarnya.
Setelah makan, kami kembali berbincang bersama Abah sambil merokok. Dan benar saja. Tanpa disengaja, waktu tak terasa sudah pukul 10:15 malam.
Komentar
Posting Komentar