Perapian
“Sepertinya kita harus meninggalakan tempat ini. Kita sudah sekarat.”
Waktu itu, semua
malam akan tertuju pada suatu tempat perapian. Melihat langsung kedepan,
terlihat lalu lalang mobil melaju cepat tiada hentinya setiap waktu di jalan
tol Purbaleunyi. Ya, tempat ini semakin hari semakin berisik dengan bertambahnya
frekuensi knalpot. Belum lagi suara mesin proyek pengerjaan rel kereta cepat
Jakarta – Bandung, yang rencananya
berakhir pada tahun 2025.
Sebelumnya,
Indra adalah yang membuat tempat tersebut. Karena kebetulan, tempat yang layak
di jadikan perapian itu, berada di depan rumahnya. Bangkai pohon tumbang dibuat
Indra, menjadi tempat penopang tulang ekor. Dibuat pula meja dan beberapa kursi
kecil dari ranting bangkai pohon dan beberapa kayu bekas. Semua dibuat
seada-adanya dengan paku yang kadang masih menonjol. Setelah itu, diletakanlah
kursi-kursi membentuk leter L dengan sisi kanan merupakan tungku perapian dan
meja di tengahnya.
“Suasana disini industrialis.”
Kata Gareng yang duduk di dekat perapian berjarak 1 meter. “tapi untungnya, pohon
kersen dan selong yang tumbuh bak rumput di sekitar sini, sedikit memudarkannya.”
Setiap
hari, suara halus dari tiupan angin dingin yang menghantam dedaunan serta semak
belukar, sehingga menghasilkan tempo serta irama halus. Apalagi, suara gesekan
kedua daun yang bersebelahan di pepohonan, seakan, mereka memberitahu kami akan
kehidupan mereka yang sunyi, hanya bertumbuh dan tidak pernah bergerak.
Anehnya, mereka tidak pernah merasa bosan dengan itu.
Tahun
2020 adalah tahun pertama perapian itu dilapaki. Beberapa dari kami; Aku,
Gareng, dan Bayu yang rata-rata mahasiswa semester 5, adalah yang mendiami
tempat perapian tersebut. Alasan kami bersatu dalam perapian-pun, sama halnya
seperti pepohonan itu; Sunyi. Tapi yang membuat berbeda, kami bisa bergerak dan
menghantam sunyi secara sadis. Karena kami selalu merasa bosan dengan hal itu.
Perbincangan
kami unik atau mungkin sama dengan yang lain. Dimulai dengan membahas cinta,
kemudian membahas bercinta, kemudian filsafat, kemudian agama, dan yang
terakhir di tengah malam; ketidakjelasan.
Ketidakjelasan
dimulai ketika suatu waktu, perbincangan di perapian tengah malam terjadi.
“Korona
anjing.” Kata Bayu yang duduk di dekat perapian, sambil meludah.
“Kenapa
maneh?” Tanyaku.
“Didudadadu
dadudadu.” Kata bayu bicara tidak jelas.
“Kenapa
kau bayu? Gigugagagu gagugagu.” Tanya Gareng yang sedang memainkankan bara api
perapian dengan kayu dan duduk di samping Bayu.
“Nanaonan
sih? Ngomong gak jelas. Pusing aing jadinya.” Kataku kesal sambil berdiri
menghadap mereka.
. “Sia-sia
pula aku menjelaskan kalau ‘korona itu anjing’.” Pungkas Bayu dengan muka yang menyengeyeng
ke kanan.”Tidak berguna pula aku menjelaskan padamu, sedangkan keadaan mustahil
berubah jika ku jelaskan.”Lanjut Bayu yang membuatku terdiam.
Suasana
euforia lahir di tempat ini. Seakan, keadaan yang berulang begitu, tetap
menjadi kiblat kami berkumpul kembali. Kami senang. Kami tertawa. Kami bahagia.
Kami gila. Dan yang penting, kami bisa merasakan hidup.
Namun
akhirnya, kebosanan bagai kematian didepan mata. Angin, selalu saja memantik
alam bersenandung kesunyian. Mobil-mobil di jalan tol, masih saja tetap
berjalan dengan cepat. Proyek kereta, masih saja bising ketika beroperasi.
Akhir perbincangan kami, masih saja
didudadadu gagugagu.
“Sepertinya
kita harus meninggalkan tempat ini.” Kata Gareng
“Kenapa?”
Tanyaku.
“Kita
sudah sekarat.”
Komentar
Posting Komentar