Ronda Subuh Nangkeup

   Di bale bambu beratap bilik yang biasa disebut saung, kepulan asap rokok tebal menyamarkan penerangan lampu. Setiap helaan napas dari 4 orang yang disana pada waktu yang hening, menciptakan hembusan Silent Killer Breath dengan sadar. Sloki Anggur Merah dioper bergantian beralasan kehangatan di malam yang dingin dan harapan suasana yang baik secara menyenangkan, lebih tahan lama. Apalagi menunggu pagi di waktu ronda malam masih terbilang cukup lama. "Surga yang semu sedang diciptakan". 

    Saung ini berada dalam komplek biasa dengan desain minimalis yang semuanya seragam. Bisa dibilang komplek tersebut baru dibangun. Penghuninya kebanyakan dapat dikatan adalah pejuang dari desa yang merasa gagal untuk dapat menaklukan tanah di tengah kota, sehingga di pinggiran lahirlah urbanisasi yang bersifat kompleks. Jika melihat dari sisi belakang saung, terlihat sabana membentang. Dan dari jauh, terlihat pula jembatan rek KRL yang sedang mangkrak hingga 2 tahun kedepan.

    Seorang pertama di saung itu berkata "Apalah daya malam bila dingin menguasai diri? mengapa pula tak segera tidur?". Seorang yang kedua-pun berkata " Tak tahu kah kau, kita sedang menjaga malam?". Seorang keempat nyinyir "Menjaga malam? hahaha. Untuk apa pula kita menjaga malam? tak bisakah kita membayar upah penjaga lain?". Seorang yang kedua menjawab, "Sudahlah, kita nikmati saja ini. Pun, bagian kita akan digilir . Kalian tahu pula bahwa kepala keluarga disini mengalami kesenjangan semrawut.". Terihat seorang ketiga hanya diam mengamati pembicaraan itu. "Diam saja kau? ayolah nimbrung!". Kata seorang keempat kepada ketiga. Seorang ketiga hanya menjawab dengan tersenyum, namun sikapnya, tidak memberhentikan pembicaraan.

    Kemudian malam hampir menjelang tengah. Angin merayu mereka untuk merekatkan kelopak mata. Akhirya mereka berempat memutuskan untuk menyepakati shift secara bergilir yang diputuskan secara acak. Lalu dua orang yang tepilih pun tidur, dan dua orang sisanya harus tetap terjaga. Sloki sudah berhenti berjalan, angin tetap merayu dan suara daun pepohonan yang terhembus semakin memantik rasa untuk tumbang. "Gimana kalau buat api?" kata seorang kedua yang masih terjaga. "Ide bagus". Kata seorang ketiga. Kemudian seorang kedua mengumpulkan dedaunan kering dan ranting-ranting yang ada di sekitar saung. setelah terkumpul cukup, dinyalakanlah api.

    Api tetap menyala dan seorang ketiga tetap terjaga. seorang kedua tertidur dengan keadaan kepala yang tersandar di dinding saung. Seorang ketiga tidak tega untuk membangunkan seorang kedua. Dia memiliki kutukan menyebalkan sebagai orang yang serba tidak enakan. Akhirnya secara baik-baik saja dengan rasa kantuk yang tertahan, ia (seorang ketiga) melanjutkan shift-nya dengan sisa rentang waktu satu jam lagi sampai tidur menjadi gilirannya. 

    Seorang ketiga inipun melamun menatap api. Tiba-tiba ada seseorang yang asing dari jauh berteriak kencang berkata "Bangun, bangun, bangun.". Kemudian seorang ketiga terbangun membuka mata dan menyadari bahwa ia baru saja terbangun dari mimpi. Seorang kedua-lah yang sebenarnya berteriak itu. Terlihat pula cahaya pagi menyilaukan mata. "Kenapa kau tak membangunkanku? gara-gara kau, kita semua tertidur hingga pagi" tanya seorang kedua. Seorang ketiga masih terdiam belum segar benar karena baru terbangun. Tak jauh berselang waktu kemudian, terdengar kabar berita bahwa ada dua motor yang baru saja hilang tadi malam.


Komentar

Postingan Populer