Pencucian Kasus
Suara bebas burung kakatua itu mengikuti kebiasaan apa yang didengarnya setiap saat. Lain dengan seorang anak yang sedang membisu itu. Suaranya terambil sebab kebebasan yang terambil di balik sebuah ruangan berukuran 4x5 meter itu. Dua orang betatap muka diantara meja, sedangkan anak itu diikat dilengan kursi. Ruang interograsi.
"Jawab dengan jujur!!! Apa kau kenal dengan orang di foto ini?." kata interogator yang mengenakan kemeja hitam, kumisnya yang tebal menandakan kewibawaan yang ingin diraih dan rambut botak tengahnya tanda umur kepala 5 atau 6, mungkin juga stress. Memperlihatkan foto seorang wanita kepada anak itu.
"Tidak tau pa jujur." Kata anak itu dengan mukanya yang penuh ketakutan takut siksaan akan didapatnya.
Mistar garnisun pun di layangkan oleh interogator pada leher anak itu dengan sedikit keras.
"Jangan bohong!!!." Katanya sambil meraba kumis tebalnya dengan mata melotot.
"Jujur pa, saya tidak tahu."
"Jangan memaksa saya untuk mengulanginya lagi." Sambil mengangkat mistar garnisunnya.
"Ampun pa, sungguh bukan saya."
Kemudian interogerator itu mengambil arsip di meja
"Dari informasi data, kamu berada di rumah sebelum korban di temukan." Katanya sambil membuka data kasus.
"Jujur pa, saya disana sedang menunggunya, kemudian dia keluar sebentar, katanya ingin membeli pulsa di warung, setelah itu dia tidak kembali lagi yang ternyata dia sudah di temukan tewas." Kata anak itu dengan wajah masih dengan ketakutan.
"Menurut data ini juga, anda mempunyai hubungan dekat dengannya. Apa benar?"
"Benar. Dia sahabat sekolah saya."
"Apa yang kamu lakukan bersamanya dirumahnya?"
"Mengerjakan tugas sekolah pa."
Interogator itu mengerutkan dahinya untuk mencari pertanyaan. Saat itu waktu pukul 11.00 malam dan telah 2 jam terlewatkan.
"Mengapa rumahnya bisa kosong?" Tanya interogator.
"Katanya sih, orang tuanya keluar kota pa."
"Tapi masalahnya, kamu yang berada disana, apalagi korban adalah seorang perempuan."
"Sumpah demi Alloh pa, saya tidak tahu apa-apa dan tidak tahu menahu masalah yang dihadapinya. Saat kami berbincangpun dia tak menunjukan sikap yang mempunyai masalah." Jawab anak itu lancar.
"Katakan pada kami siapa saja yang berhubungan dengan korban itu?"
"Setahu saya, dia orang yang tidak neko-neko, jadi tidaklah dia berbuat banyak masalah yang tidak-tidak."
"Jawab saja!!!" Kata interogator itu sambil mengangkat mistar garnisunnya.
Lalu di sebutlah semua orang yang berhubungan dengan si korban itu. Kebanyakan teman sekolahnya.yang di sebutnya, sisanya teman-teman diluar sekolahnya.
Kemudian integerator itu terdiam, lalu meninggalkan anak itu sendirian. Mungkin ingin mendiskusikannya di luar ruangan dengan para inspektur polisi lainnya.
Malang nasib anak itu. Kematian teman dekat yang menjadi korban membuatya berduka sangat dalam juga menjadi malapetakanya. Berharap keajaiban Tuhan adalah sisanya.
Tiba-tiba muncul darah dari bawah pintu ruangan yang terus menerus hingga menutupi seluruh lantai putih ruangan. Tak tahu mengapa. Dan masuklah 3 orang yang salah satunya integerator yang tadi, sambil membawa 2 lembar kertas.
"Sekarang engkau tanda tangan disini!." perintah integerator itu."Cepat." Memaksa.
Wajah anak itu bermunculan darah. Bibirnya membisu serta penglihatan yang buram. Hanya tangannya yangbergerak sendiri menandatangani surat itu.
Selesai sudah nasib anak itu. Kini, pengadilan menjatuhinya hukuman mati. Berselang seminggu, matilah anak itu.
2 tahun kemudian, intelejen menemukan pelaku yang sebenarnya dari kejadian pembunuhan korban yang bukan oleh anak yang sudah mati itu.
"Jawab dengan jujur!!! Apa kau kenal dengan orang di foto ini?." kata interogator yang mengenakan kemeja hitam, kumisnya yang tebal menandakan kewibawaan yang ingin diraih dan rambut botak tengahnya tanda umur kepala 5 atau 6, mungkin juga stress. Memperlihatkan foto seorang wanita kepada anak itu.
"Tidak tau pa jujur." Kata anak itu dengan mukanya yang penuh ketakutan takut siksaan akan didapatnya.
Mistar garnisun pun di layangkan oleh interogator pada leher anak itu dengan sedikit keras.
"Jangan bohong!!!." Katanya sambil meraba kumis tebalnya dengan mata melotot.
"Jujur pa, saya tidak tahu."
"Jangan memaksa saya untuk mengulanginya lagi." Sambil mengangkat mistar garnisunnya.
"Ampun pa, sungguh bukan saya."
Kemudian interogerator itu mengambil arsip di meja
"Dari informasi data, kamu berada di rumah sebelum korban di temukan." Katanya sambil membuka data kasus.
"Jujur pa, saya disana sedang menunggunya, kemudian dia keluar sebentar, katanya ingin membeli pulsa di warung, setelah itu dia tidak kembali lagi yang ternyata dia sudah di temukan tewas." Kata anak itu dengan wajah masih dengan ketakutan.
"Menurut data ini juga, anda mempunyai hubungan dekat dengannya. Apa benar?"
"Benar. Dia sahabat sekolah saya."
"Apa yang kamu lakukan bersamanya dirumahnya?"
"Mengerjakan tugas sekolah pa."
Interogator itu mengerutkan dahinya untuk mencari pertanyaan. Saat itu waktu pukul 11.00 malam dan telah 2 jam terlewatkan.
"Mengapa rumahnya bisa kosong?" Tanya interogator.
"Katanya sih, orang tuanya keluar kota pa."
"Tapi masalahnya, kamu yang berada disana, apalagi korban adalah seorang perempuan."
"Sumpah demi Alloh pa, saya tidak tahu apa-apa dan tidak tahu menahu masalah yang dihadapinya. Saat kami berbincangpun dia tak menunjukan sikap yang mempunyai masalah." Jawab anak itu lancar.
"Katakan pada kami siapa saja yang berhubungan dengan korban itu?"
"Setahu saya, dia orang yang tidak neko-neko, jadi tidaklah dia berbuat banyak masalah yang tidak-tidak."
"Jawab saja!!!" Kata interogator itu sambil mengangkat mistar garnisunnya.
Lalu di sebutlah semua orang yang berhubungan dengan si korban itu. Kebanyakan teman sekolahnya.yang di sebutnya, sisanya teman-teman diluar sekolahnya.
Kemudian integerator itu terdiam, lalu meninggalkan anak itu sendirian. Mungkin ingin mendiskusikannya di luar ruangan dengan para inspektur polisi lainnya.
Malang nasib anak itu. Kematian teman dekat yang menjadi korban membuatya berduka sangat dalam juga menjadi malapetakanya. Berharap keajaiban Tuhan adalah sisanya.
Tiba-tiba muncul darah dari bawah pintu ruangan yang terus menerus hingga menutupi seluruh lantai putih ruangan. Tak tahu mengapa. Dan masuklah 3 orang yang salah satunya integerator yang tadi, sambil membawa 2 lembar kertas.
"Sekarang engkau tanda tangan disini!." perintah integerator itu."Cepat." Memaksa.
Wajah anak itu bermunculan darah. Bibirnya membisu serta penglihatan yang buram. Hanya tangannya yangbergerak sendiri menandatangani surat itu.
Selesai sudah nasib anak itu. Kini, pengadilan menjatuhinya hukuman mati. Berselang seminggu, matilah anak itu.
2 tahun kemudian, intelejen menemukan pelaku yang sebenarnya dari kejadian pembunuhan korban yang bukan oleh anak yang sudah mati itu.
Komentar
Posting Komentar