Partai Ikan



Sore itu menjelang magrib sepulang sekolah, kami beriringan dengan membawa tiga motor yang setiap motornya membawa 1 penumpang dan juga bermasalah dalam masalah surat menyurat dan juga mesin maupun bodinya. Melewati buah batu yang indah dengan kemacetannya, menuju rumahku yang berada di daerah cijawura yang berada di tepian ciwastra dan sekitarnya yang menakjubkan. ciwasstra oh ciwatra.
 
  Oh ya, aku lupa memperkenalkan lima temanku ini, yang dua orang adalah pemilik kendaraan bermotor yang 3 orang lagi adalah yang dibawanya pada masing-masing tiga motor. lohh, siapa yang bawa satu motornya? tentu saja aku. mengerti?. Temanku yang pertama pembawa motor beat adalah davi, kedua yang diboncenginya nafri namanya, ketiga pembawa motor mio, Nadlih, keempat yang diboncenginya adalah Idah, dan yang kelima adalah yang  di bonceng olehku dengan motor revo, komat. Lalu siapa yang keenam? tentu saja aku. Aku siapa? semoga saja kau tahu atau pura pura tidak tahu.
 
  Lanjut saja dengan kisah kami dan sudahi dengan perkenalannya, oh ya sampai mana? sampai kami beriringan dengan tujuan ke  rumahku. Kebetulan, kawan-kawanku ini ingin menetap dirumahku selama semalam dan akan membahas apa yang akan kami bahas dan juga penting, entah apa judul pembahasannya nanti kamu beri judul sendiri saja
 
  Saat itu kami melewati taman kang Ibing. Taman itu adalah taman yang di buat oleh almarhum kang Ibing daerah Pandan wangi. Saat itu suasananya sudah larut menjelang adzan magrib dan di dekat taman kang ibing ada sebuah warung kecil , kemudian kami menghampiri warung tersebut, lalu duduk untuk merehatkan diri sejenak karena hujan sedikit rintik-rintik dengan membeli beberapa macam amunisi yaitu cikopay (cikopay adalah bahasa gaul disini bahasa indonesianya air kopi), gorengan, dan juga rokok untuk temanku yang perokok. Kami semua sudah kelas 12, mungkin wajar bagi beberapa dikalangan kami sudah aktif merokok.
 
  "Tebih keneh imah maneh?" (Artinya: masih jauh gan rumah kamu. Maneh iru kamu yang kasar bahasanya bahas bagi makhluk halus) Kata nafri sambil memegang kopi panas
  "Eta kedeng deui kalem weh santai heula weh didieu"(artinya:itu bentar lagi santai dulu aja disini) kataku menjawab. Bentar dulu, lebih baik aku bahasa indonesiakan saja, biar tidak lelah menterjemahnya.
  "Fik gimana nanti buat besok?" Tanya Idah padaku. Idah itu laki laki, namanya aja yang kusamar karena belum minta izin untuk mencatat namanya
  " Tenang kawan, besok kita rencanakan sesuai rencana kita" jawabku dengan tidak ambil pusing
  "Emang kita sudah berencana?" Tanya dapi untuk memperpanjang percakapan.
  "Entahlah, tapi kita lanjutkan saja diskusi ini di rumahku. Kalian gak takut apa, ini tempat umum. Disini banyak intel" kataku mendramatisir
  "Tapi menurutku lebih baik begini...." Kata Nafri
  "Udah, nanti aja bahasnya takut ada intel" kata Idah memotong
  "Lebih baik kita membicarakan perempuan. Iya gak?" Kata Komat yang tiba 2 bicara dari diamnya
  "Jadi yang jomblo diam aja gitu?"kata nafri
  "Justru ini pembicaraan menarik, bahasanya tuh taktik menguasai wanita hehehe" kataku sambil tertawa kecil
  Semuapun tertawa kecuali dapi dia berbeda tertawanya dari yang lain, seperti tersedak biji nangka. Dan lanjut saja pembicaraan kami yang kurang menarik dan tidak pantas kutulis sehingga aku lewat saja.
 
  Setelah itu hujan yang rintik rintik berhenti, dan tidak terasa sudah jam 7 malam lebih.
  "Ayo lest go" kataku. Lalu kami pun memersiapkan diri untuk menuju rumahku yang jaraknya kurang lebih 1 km lagi.
  "Bayarnya sama kamu dulu" kataku menunjuk ke Idah yang sedang banyak uang
  "Iya, asalkan di rumahmu sedia kopi dan macam macam cemilan hehe" katanya dengan raut muka yang sedikit masam tapi terpaksa senyum, karena uangnya dipakai mentraktir.
  "Iya" kataku iyain ajalah biar cepet.
  Kemudian Idah memberikan uangnya kepada si tukang warung itu dan bergegaslah kami mengambil barang barang di meja dan kursi.
 
  Pergilah kami menaiki motor masing-masing beserta penumpangnya melewati aspal jalan Pandan wangi dengan lampu jalan bertenaga matahari, juga bulan seperdelapan lingkaran tetapi kurang bintang, karena cuacanya yang mendung sehabis hujan. Jalanan yang sepi, karena berada di area perkomplekan yang kebanyakan dari kalangannya adalah orang yang sangat ekslusive ceritanya. Dan jelas, beda sama perkampungan yang apa adanya.
  Hingga sampailah di rumahku dengan pagar hitam pink yang sedikit pudar catnya. Indah bagiku, tak tahu menurut mereka yang jelas, biasa saja. Lalu motor-motor pun di parkirkan di halaman rumah.
  "Sok langsung masuk"kataku sambil membuka pintu sehingga merekapun masuk dengan membuka sepatu dan menyimpan di rak yang sudah di sediakan. Ada ayah dan ibuku dan adikku di kamar di dalam rumah, merekapun satu-persaru bersalaman kapada ayah dan ibuku kecuali adikku, karena dia malu. Asal kamu tahu, aku adalah anak guru di sekolahku dan mereka adalah murid dari ayahku. Mengerti?. Lalu naiklah ke lantai 2 menuju kamarku melewati tangga kayu yang sedikit rapuh termakan rayap. Insya Alloh aman.
  "Selamat datang di kamarku" kataku sambil mempersilahkan mereka masuk
  "Rapih banget kamar kamu" kata nafri memuji
  "Iyalah kan aku orang beriman sebagian"
  "Kenapa sebagian" tanya dapi heran
  " Karna kebersihan hanya sebagian dari iman, sisanya hanya Alloh yang tahu" kataku
  "Betul juga ya hahahaha" kata nafri tertawa saja. Komat dan dapi hanya bengong saja.
  Akupun mempersilahkan mereka untuk duduk dan bersantai-santai menikmati wifi yang sudah di sediakan untuk tamu agar bisa bermain gadjed jikalau bosan.
  Kamarku tidak terlalu luas. Kalau di hitung luasnya, setengahnya dari ruang kelas sekolah pada umumnya. Berwarna biru dan ada macam-macam lukisan, baik yang abstrak maupun yang gak jelas. Didindingnya terdapat banyak coretan ku yang kuukir, hingga menjadi suatu karya yang tidak dapat di perjual belikan saking mahalnya. Ya mahal kalau harus menghancurkan tembok rumah untuk membelinya.
  "Mana atuh kopi teh" (atuh dan teh adalah bahasa imbuhan)kata dapi sambil mengedipkan mata, sehingga  ku balas dengan 2 kedipan yang membuatku turun kebawah menuju dapur untuk meracik beberapa gelas kopi, juga snack yang tersedia, air putih  dan beberapa batang rokok yang kemudian kubeli diwarung samping rumahku untuk para perokok. Akupun perokok waktu itu, sekarangpun masih. Maafkan aku mamah.
  "Ki.. ada siapa aja diatas?" Tanya ibuku yang sedang memakai kerudung ungu. Dan selalu berkerudung dan berpakaian solehah jika ada temanku dirumah. Karna ibuku adalah orang yang hebat sekali keistiqomahannyam
  "Biasa mah, para gerombolan pengungsi hehehe"kataku
  "Kebiasaan bawa temen kamu ya. Mamah lagi mau lepas kerudung nih."
  "Tidak apa-apalah biar dapat pahala mah."
  "Huhh, susah amat sih di kasih tahu kamu tuh nak. Lagi ngapain mereka disini?."
  "Lagi mau diskusi penting dulu buat besok."
  "Diskusi apa?" Tanya ibuku dengan mengangkat kedua alisnya yang benar-benar terangkat.
  "Ada deh. Kalau di kasih tahu, takutnya mamah intel." Kataku sambil meringis
  Lalu ibuku tertawa "terserah aja ki. Bener ternyata efek kamu baca buku novel itu."
  "Novel yang mana, Novel baswedan?"
  "Itu da vinci coda."
  "Code mamah.''
  "Yah itulah."
  Selesai bercakap. Akupun menuju dapur untuk menuangkan air panas yang berada di dalam teko, kedalam 6 cangkir yang sudah tersedia kopi di dalamnya. Sengaja tidak kugunakan gula, biarkanlah mereka yang menakarnya. Kemudian kusimpan para cangkir di atas baki, juga beberapa cemilan, tak lupa persediaan gula beserta sendok teh yang bukanlah sendok kopi. Langsung menuju ke atas dengan membawa baki beserta isinya.
  "Yeh ngaropi." Artinya silahkan mengopi. Kataku sambil menyimpan baki ke lantai yang sedang di kerumuni oleh lima kawanku. Sebelumnya maaf aku sedikit memakai bahasa sunda, dikarenakan lebih enak dan lebih nyata pembicaraannya. Tenang saja, akan ku terjemahkan jika aku berkenan.

"Langsung mulai wae?" Kata Idah membuka membuka pembicaraan, untuk mendiskusikan suatu urusan untuk besok. Berlagak gayanya orang yang berurusan. Memang begitulah orang yang berurusan, seperti yang berlagak padahal memang iya. Dan kamipun membicarakannya dengan penuh rasa humorisasi dan harmonisasi.
  Ohh ya, apakah kalian tahu apa itu urusannya? Kalau tidak tahu, biarkanlah aku yang memberitahu. Kalau tidak ingin tahu, maka kamu salah untuk membaca cerita ini. Sebetulnya, kami 6 sekawan ini termasuk diriku, ingin membuat sebuah rencana. Rencananya yaitu, memberontak sekolah. Berontak?. Bukaaaan!! (Maaf tanda serunya 2) bukan seperti yang kau fikirkan. Berontak kami adalah berontak yang bisa di sebut berontak akademistik.asiiiik. Bukannya so soan menjadi akademistik, tetapi memang kami adalah calon-calon mahasiswa akademistik yang siap membela negara bangsa Indonesia yang kami cintai kandungannya. Hahaha ketawa sendiri aku dalam fikiranku.
 
  Lanjut ke cerita. Pembicaraan kami pun berlangsung dengan celotehan belaka. Biasanya orang berceloteh untuk mencairkan suasana. "Aku mau nanya yeuh" ("yeuh" artinya, ini) tanyaku saat sedang hening sedikit, setelah pembukaan dari Idah. "Naon?" (Apa) kata Nafri yang sedang menggunakan ponselnya untuk bermain instagram (instagram adalah aplikasi media sosial untuk memposting sesuatu dalam bentuk photo maupun video, dan bisa ditambah status yang kamu inginkan).
  "Naon bedana pilkabe sama pilkada?". (Belum ku terjemahkan ya, capek) Tanyaku
  "Pilkabemah keluarga berencana, pilkadamah pemilihan umum."kata Nafri masih melihat gadgetnya.
  "Salah!" Kataku
  "Kalau pilkabe berbentuk tablet, kalau pilkada berbentuk kotak" kata Idah
  "Jol kana bentuk." Kataku (Artinya "tiba2 ke bentuk") "salah."
  "Aing apal, kalau pilkadamah menghasilkan."kata Komat
  "Terus?" Tanyaku
  "Kalau pilkabemah moal jadi-jadi atuh."("moal", artinya tidak akan) Kata Komat sambil memperagakan hal yang tabu dan tidak usah aku bahas lebih panjang.
  "Njir, Naha apal?" ("Kenapa tahu?") Kataku
  "Yaiyalah urang tea." ("Yaiyalah, saya gitu") kata Komat, sambil memukul dadanya yang bangga.
  "Aku juga tahu, tapi malu jawabnya." Kata Dapi yang kelihatannya tidak mau kalah.
  "Ahhh, tidak tahumah jangan sotoy." ("Sotoy" artinya sok tahu)
  
  Tak terasa sudah larut malam ditengah obrolan yang sedang asik asiknya, kamipun tertidur satu persatu. Adapun yang tidak tertidur karena masih ingin bermain game di hape.

  Keesokan harinya, aksi kamipun dimulai.
  TAMAT
 

Komentar

Postingan Populer